Ini cerita soal pengalaman pendakian pertama saya, di Bukit Trunyan. Setelah itu, saya sempat balik lagi ke tempat yang sama beberapa bulan kemudian, bareng orang yang berbeda.
Pendakian Pertama, 28 Maret 2026
Ini pengalaman pertama saya naik gunung, bareng Wisnu, Yantini, dan Momet. Sebelum berangkat, ekspektasi saya soal naik gunung itu berlebihan banget, bayangannya masuk hutan lebat, climbing di bebatuan, jurang di kiri kanan jalur. Ternyata pas sampai di sana, jauh dari bayangan itu. Rasanya lebih mirip jalan di kebun atau sawah yang kontur tanahnya naik terus dan banyak pohon di sekitarnya.

Kondisi badan saya waktu itu juga kurang fit, betis kanan agak sakit dari sebelum berangkat. Jadi selama perjalanan naik, ada keraguan terus di kepala, apa saya bisa sampai atas atau tidak. Anehnya, pas benar benar jalan, rasanya biasa saja, tidak seberat yang saya takutkan. Saya suka banget sama suasananya, udaranya, matahari pas di atas, sama pemandangan alam sepanjang jalur.
Baru pas turun, rasa sakitnya kerasa. Tiap injakan di awal awal jalur turun itu nyut nyutan dikit di betis kanan, tapi begitu sampai bawah, aman aman saja. Sampai rumah juga masih baik baik saja, tapi dua hari setelahnya saya akhirnya tumbang, sakit karena kondisi badan yang memang sudah kurang fit, ditambah jam tidur berantakan karena sering begadang. Bahkan H-1 pendakian saya sama sekali tidak tidur, soalnya jam 2 pagi sudah harus jalan ke rumah teman, biar jam 4-an bisa langsung berangkat ke lokasi.
Saya berterima kasih banget sama Yantini dkk, karena sudah mengenalkan saya ke dunia hiking ini. Soalnya saya memang tipe yang suka suasana tenang dan sejuk dari alam, jadi dari pendakian pertama itu, mulai kepikiran pengen naik gunung lagi.
Pendakian Kedua, 28 Mei 2026
Kali ini sama sepupu saya sendiri, Cekgu. Awalnya diajak, tapi ternyata dia juga belum pernah naik gunung sama sekali, jadi saya balik ngajakin dia buat coba Trunyan juga. Sama sama suka alamnya, dan kali ini rasanya lebih santai karena sudah tahu medannya bakal seperti apa, jadi tidak ada lagi keraguan berlebihan kayak yang pertama. Badan juga aman aman saja setelahnya, tidak ada drama sakit sakit seperti pendakian pertama.

Refleksi
Dua momen ini beda banget rasanya, meski gunungnya sama. Yang pertama penuh keraguan diri dan berujung sakit karena badan kurang siap, yang kedua jadi lebih menikmati prosesnya karena sudah tenang dan lebih siap. Pengen banget balik lagi ke Trunyan suatu saat nanti, mungkin sambil ngajak yang belum pernah coba juga.
"Kadang yang bikin ragu bukan medannya, tapi bayangan yang kita bikin sendiri sebelum benar benar menjalaninya."