Pendakian keempat, kali ini ke Gunung Agung lewat jalur Pengubengan, tanggal 4 Juli 2026. Gunung tertinggi di Bali, dan sejauh ini jadi pendakian paling berkesan dari semua yang pernah saya jalani.
Persiapan dan Berangkat
Kali ini bareng Hanif, teman kantor yang sama seperti waktu Batukaru, dan Bukti, teman kampus. Ini juga pertama kalinya saya ajak teman kampus dan teman kantor sekaligus ke rumah saya sebelum berangkat.
Kami berangkat Jumat jam 12 malam, sampai lokasi sekitar jam 1, dan mulai naik jam 1 lebih. Kondisi badan saya waktu itu sebenarnya masih belum fit betul, masih ada sisa sakit dari sebelumnya, tapi tetap saya paksakan gas ke Agung. Awal jalan, baru sekitar 8 menit, saya sudah ngos ngosan parah, jelas efek dari kondisi badan yang kurang mendukung. Untungnya lama lama malah jadi biasa saja.

Menuju Puncak, Disuguhi Pemandangan Luar Biasa
Sepanjang perjalanan dari basecamp sampai pos 3, medannya cenderung santai, dan justru di sinilah pemandangannya yang bikin semua capek kerasa terbayar. Langit penuh bintang, pemukiman di bawah yang bertabur cahaya waktu malam, sampai momen melihat sunrise yang indah banget.

Simpang Jodoh, Medan yang Akhirnya Sesuai Ekspektasi
Setelah melewati shelter terakhir sebelum puncak, medannya berubah total. Di sinilah, buat pertama kalinya, saya ketemu sama gambaran naik gunung yang dulu saya bayangkan sebelum pertama kali ke Trunyan, masuk hutan, climbing di bebatuan meski tidak seekstrem yang saya kira, sampai jurang di kiri kanan jalur, tepat di bagian yang disebut punggung naga. Sepanjang jalur ini sampai puncak, pemandangan kaldera Batur dengan birunya yang cantik dan lautan awan menemani hampir di setiap langkah, jadi salah satu pemandangan paling saya inget dari pendakian ini. Ini salah satu pengalaman paling luar biasa yang pernah saya rasakan selama naik gunung.
Turun yang Menyiksa
Kalau naiknya berat di bagian akhir, turunnya justru menyiksa dari awal. Dari Simpang Jodoh sampai pos 3, lutut kiri bagian belakang saya sakit luar biasa. Ditambah lagi, dari pos 3 kami mulai kekurangan air karena logistik yang dibawa ternyata tidak cukup. Jadi dari pos 3 sampai pos 1, kami jalan dalam kondisi kehausan, baru bisa beli air begitu sampai pos 1.
Untungnya, meski kaki sudah protes keras, setelah pos 3 saya masih sanggup trail run tipis tipis buat mempercepat perjalanan turun. Sampai pos 1, efek sakit di lutut sudah mulai terasa berat, jadi saya putuskan naik ojek dari pos 1 sampai basecamp, sementara Hanif dan Bukti masih jalan kaki di belakang. Maaf ya kawan, kutinggal duluan waktu itu. Total waktu naik dan turun, sekitar 14 jam.
Refleksi
Agung ngasih saya banyak hal sekaligus, medan yang akhirnya sesuai bayangan awal saya soal naik gunung, pemandangan yang mungkin paling indah dari semua pendakian saya sejauh ini, dan pelajaran soal batas fisik, karena badan yang belum benar benar fit ternyata tetap bisa dipaksa jalan sejauh itu, meski harus bayar mahal di bagian turunnya.
"Kadang yang paling indah dan yang paling menyakitkan datang dari jalur yang sama, cuma beda arahnya saja.""