Setelah dua kali ke Trunyan, ini pendakian ketiga saya, kali ini ke Gunung Batukaru, tanggal 13 Juni 2026. Kalau Trunyan kemarin lebih ke perkenalan sama dunia hiking, Batukaru ini yang bikin saya sadar, oh ternyata naik gunung bisa semenantang ini.
Persiapan yang Berantakan dari Awal
Ide pendakian ini datang dari Hanif, teman satu kantor sekaligus teman magang, orang Kediri, Jawa Timur. Awalnya dia ngajak beberapa orang di kantor, tapi ujung ujungnya yang jadi berangkat cuma berdua. Malam sebelumnya, saya nginep pertama kalinya di kosan Hanif, terus kami sempat mampir beli headlamp dan senter di toko D.I.Y.
Rencananya kami berangkat jam 2 pagi. Kenyataannya, kami malah bangun kesiangan jam 4, padahal perjalanan ke lokasi itu sendiri sekitar dua jam lebih. Akhirnya berangkat jam setengah lima, sampai di basecamp via Pura Malen sekitar jam 7 pagi.

Ketemu Gabriel di Basecamp
Kami baru mulai naik jam 8, karena ternyata ada guide untuk seorang bule yang belum datang. Bule itu namanya Gabriel, wisatawan dari Polandia, dan akhirnya dia ikut naik bareng kami berdua sambil menunggu guide-nya menyusul.
Sepanjang perjalanan naik, kami banyak ngobrol sama Gabriel, lebih tepatnya dia yang banyak cerita soal perspektifnya tentang pemerintahan dunia, tentang Indonesia, dan berbagai topik lain, sementara saya lebih banyak nyimak.
Jalur "Landai" Khas Batukaru
Soal jalurnya sendiri, katanya landai. Landai dalam tanda kutip besar, karena kenyataannya jauh dari kata itu. Habis pos 3, saya sempat agak hopeless, karena rasanya puncak masih jauh banget. Untungnya saya pegang motto sederhana, "selesaikan apa yang sudah kamu mulai", jadi tetap lanjut sampai akhirnya benar benar sampai puncak.
Di puncak, kami sempat foto bareng sebentar sama Gabriel, sebelum dia turun duluan. Saya dan Hanif memilih diam lebih lama di atas, menikmati momennya sedikit lebih panjang.

Turun yang Tidak Kalah "Landai"
Perjalanan turun ternyata bukan cerita yang lebih ringan. Dari puncak sampai pos 3, kaki saya rasanya mau menjerit, lagi lagi berkat jalur yang katanya landai itu. Lewat pos 3, kami sempat ketemu lagi sama Gabriel dan guide-nya yang baru menyusul, sempat foto bareng sebentar lagi di situ, sebelum akhirnya kami duluan lanjut turun. Lewat pos 2, giliran belakang lutut kiri saya yang mulai protes keras.
Sampai basecamp, kami malah dikasih uang dan ditraktir minum sama supir Gabriel, sebelum akhirnya pulang. Kami sampai basecamp duluan, sementara Gabriel masih di jalur bareng guide-nya, karena Gabriel sendiri yang punya riwayat cedera punggung, jadi jalannya lebih pelan. Perjalanan pulang pun ditutup dengan kena macet.
Refleksi
Batukaru ngajarin saya banyak hal, soal ketahanan fisik yang ternyata masih perlu banyak dilatih, soal obrolan tak terduga sama orang asing yang baru ketemu jam itu juga, dan soal motto sederhana yang ternyata cukup buat bikin kaki tetap melangkah walau kepala sempat hopeless di tengah jalan. Dan terakhir kalinya ke batukaru (kapok kesana lagi😁)
"Tidak apa kita kesiangan, toh dapet duit juga hehe."