Pendakian Kelima, Gunung Abang yang Sempet Bikin KesasarPendakian Kelima, Gunung Abang yang Sempet Bikin Kesasar

jalur pendakian Gunung Abang

Pendakian kelima, tanggal 14 Agustus 2026, jam 4 pagi, ke Gunung Abang, bareng Degu, saudara saya yang seumuran dan emang dari kecil sering bareng. Ini juga pertama kalinya kami berdua ke Gunung Abang, jadi memang belum terlalu tahu medan dan jalurnya.

Medan yang "Biasa Aja" Dibanding Sebelumnya

Kalau dibandingin sama dua pendakian sebelumnya, Batukaru (gunung tertinggi kedua di Bali) dan Agung (gunung tertinggi pertama), Abang jelas kalah jauh soal tingkat kesulitan. Ada juga bagian jalur yang katanya "landai", tapi jumlahnya nggak sebanyak dua gunung sebelumnya.

jalur pendakian Gunung Abang

Sempet Kesasar di Awal Perjalanan

Momen paling berkesan justru bukan soal medannya, tapi soal kesasar sesaat pas baru mulai naik. Ada pertigaan, dan kami nggak lihat ada plang atau penanda jalur, soalnya kehalang kabut tebal waktu itu. Ditambah lagi, senter yang kami pakai warnanya putih, yang justru bikin penanda jalan (kalau ada) makin susah keliatan.

Kami malah kebablasan ke arah kanan, yang ternyata bukan jalur menuju Abang. Curiganya mulai muncul waktu jalannya kerasa turun terus, dan ada bekas bekas jejak ATV di tanah. Iseng saya buka Avenza Maps yang petanya udah saya download sebelumnya, dan ternyata benar, kami salah jalur. Untungnya baru jalan sedikit, jadi nggak butuh waktu lama buat balik ke jalur yang benar. jalur pendakian Gunung Abang

Belum selesai sampai situ. Pas udah setengah perjalanan menuju pos 1, saya iseng buka maps lagi, terus saya perlihatin ke Degu. Di file peta yang saya download itu ada garis track warna kuning yang nunjukin jalur resmi pendakian. Yang bikin bingung itu titik dot yang nunjukin posisi kami secara real-time, soalnya dot itu kelihatan ada di jalur lain deket danau. Degu sempat nyeletuk bingung liat itu. Saya juga sempat bingung sama posisi dot yang aneh itu. Kami tetap lanjut jalan ngikutin jalur fisik yang ada di depan mata, tapi pas saya cek ulang, dot posisi kami malah kelihatan ada di tengah danau. Dari situ, kami mutusin berhenti terlalu percaya sama dot posisi itu, garis kuning tetap jadi acuan, dot cuma dipakai sesekali buat ngecek udah sampai mana. Dan ternyata, dot itu emang kadang bener, kadang dongo.

"Kadang alat canggih nggak selalu lebih bisa diandalkan dibanding insting dan kabut yang perlahan menghilang."